
Setelah menyelesaikan tawaf, jemaah umroh melanjutkan ke rukun berikutnya: sa'i. Secara ringkas, sa'i adalah berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali dalam rangkaian umroh atau haji. Sa'i termasuk salah satu rukun umroh, dikerjakan setelah tawaf, dan menyimpan kisah yang menyentuh tentang keteguhan seorang ibu.
Bagi Anda yang mengelola travel, memahami sa'i — maknanya, syarat, dan tata caranya — membantu menyiapkan bimbingan manasik yang tepat sehingga jemaah menjalankannya dengan benar dan penuh penghayatan. Mari kita bahas.
Ringkasan Cepat
- Sa'i: berjalan Shafa–Marwah tujuh kali, dikerjakan setelah tawaf.
- Sejarah: mengenang Siti Hajar mencari air untuk Ismail.
- Perhitungan: Shafa ke Marwah = 1 kali; Marwah ke Shafa = 1 kali; berakhir di Marwah.
Sa'i Adalah: Pengertian & Maknanya
Secara bahasa, sa'i berarti berusaha atau berjalan dengan sungguh-sungguh. Dalam istilah ibadah, sa'i adalah berjalan bolak-balik antara dua bukit kecil bernama Shafa dan Marwah, yang kini keduanya berada di dalam kompleks Masjidil Haram. Sa'i bukan sekadar berjalan — ia adalah ritual yang sarat makna, menghidupkan kembali sepenggal sejarah agung tentang ikhtiar dan tawakal.
Sejarah di Balik Sa'i
Sa'i mengenang perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang ditinggalkan bersama putranya yang masih bayi, Ismail, di lembah tandus Makkah atas perintah Allah. Ketika bekal air habis dan Ismail menangis kehausan, Hajar berlari bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, mencari tanda-tanda air atau kafilah yang lewat. Di puncak ikhtiar dan tawakalnya itulah, atas kehendak Allah, memancar mata air Zamzam dari dekat kaki Ismail — mata air yang hingga kini tak pernah kering dan diminum jutaan jemaah setiap tahun.
Karena itu, setiap jemaah yang melakukan sa'i sesungguhnya sedang menapaktilasi jejak seorang ibu yang tak menyerah. Sa'i mengajarkan bahwa seorang hamba wajib berikhtiar sekuat tenaga, sementara hasilnya diserahkan kepada Allah. Pemahaman makna ini membuat sa'i terasa jauh lebih dalam daripada sekadar berjalan tujuh kali.
Sa'i mengajarkan satu hal abadi: berlarilah sekuat tenaga dalam ikhtiar, lalu serahkan hasilnya pada Allah. Zamzam memancar justru di puncak usaha, bukan di awal keluh.
Syarat & Ketentuan Sa'i
Agar sa'i sah, ada beberapa ketentuan yang perlu dipenuhi. Secara umum meliputi:
- Dilakukan setelah tawaf — sa'i tidak dikerjakan mendahului tawaf.
- Tujuh kali perjalanan penuh, dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.
- Menempuh seluruh jarak antara Shafa dan Marwah pada setiap perjalanan.
- Dilakukan di tempatnya, yaitu lintasan mas'a di dalam Masjidil Haram.
Berbeda dengan tawaf, sa'i tidak mensyaratkan suci dari hadas menurut pendapat yang masyhur — sehingga jemaah yang batal wudhu di tengah sa'i tetap dapat melanjutkannya. Meski demikian, tetap dianjurkan menjaga kesucian dan kekhusyukan. Rincian ketentuan bisa berbeda menurut mazhab, sehingga bimbingan muthawif dan ustadz tetap menjadi rujukan.
Tata Cara Sa'i secara Ringkas
Secara umum, sa'i dilakukan dengan urutan berikut:
- Setelah selesai tawaf (dan shalat sunnah serta minum Zamzam), jemaah menuju bukit Shafa.
- Memulai perjalanan pertama dari Shafa menuju Marwah — ini dihitung satu kali.
- Dari Marwah kembali ke Shafa dihitung satu kali lagi.
- Terus berulang hingga genap tujuh kali perjalanan, yang berakhir di Marwah.
- Sepanjang sa'i, memperbanyak doa dan dzikir; bagi laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil di antara dua tanda lampu hijau bila kondisi memungkinkan.
Sama seperti tawaf, tidak ada bacaan doa wajib tertentu di setiap perjalanan sa'i, sehingga jemaah bebas berdoa dengan permohonan yang paling menyentuh hatinya.
Jemaah Terbimbing di Setiap Rukun
Sebagai bagian dari layanan handling, kami menyiapkan muthawif berpengalaman yang menuntun jemaah Anda menjalani sa'i — termasuk mendampingi jemaah lansia — dengan tenang dan benar. Diskusikan kebutuhan operasional keberangkatan Anda dengan tim kami.
Lihat Layanan Handling →Sa'i di Masa Kini & Peran Bimbingan
Kini, lintasan sa'i (mas'a) telah menjadi bagian dari kompleks Masjidil Haram yang nyaman: berlantai marmer, dilengkapi pendingin udara, serta jalur khusus bagi pengguna kursi roda dan lantai atas yang lebih lapang. Ini sangat membantu jemaah lanjut usia yang dulu kesulitan menempuh jarak sekitar 400 meter sekali jalan — total lebih dari tiga kilometer untuk tujuh perjalanan.
Meski fasilitasnya modern, tantangan tetap ada: di jam padat, lintasan bisa ramai, dan menjaga hitungan tujuh perjalanan membutuhkan konsentrasi. Di sinilah peran muthawif terasa nyata — membantu jemaah menghitung, memilih waktu dan jalur yang tepat, serta mendampingi yang membutuhkan. Travel yang menyiapkan bimbingan sa'i dengan baik memastikan jemaah dapat meresapi makna ibadahnya, bukan sibuk mengkhawatirkan salah hitung. Untuk memahami rangkaian rukun lainnya, pelajari juga panduan rukun umroh dan tawaf.
Amalan yang Dianjurkan saat Sa'i
Selain rukun dan syaratnya, ada beberapa amalan yang menyempurnakan sa'i dan menambah kekhusyukannya:
- Naik ke Shafa dan Marwah. Setiba di Shafa dan Marwah, dianjurkan menghadap kiblat, mengangkat tangan, bertakbir, dan berdoa. Bagi laki-laki disunnahkan naik sedikit ke bukitnya bila memungkinkan.
- Berlari kecil di antara dua lampu hijau. Bagi laki-laki, dianjurkan mempercepat langkah pada bagian lintasan yang ditandai dua lampu hijau — mengenang langkah cepat Siti Hajar — bila kondisi tidak terlalu padat.
- Memperbanyak doa dan dzikir sepanjang perjalanan, dengan permohonan apa pun yang diinginkan.
- Tenang dan tidak terburu-buru. Sa'i bukan perlombaan; menjaga ketenangan justru membuat maknanya lebih meresap.
Amalan-amalan ini bersifat anjuran, sehingga tidak perlu dipaksakan bagi jemaah yang lemah atau di tengah kepadatan — keselamatan dan kekhusyukan tetap diutamakan. Bagi jemaah lansia, memanfaatkan lantai atas atau layanan kursi roda adalah pilihan bijak agar sa'i tetap tuntas tanpa memberatkan.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Sa'i adalah apa?
Sa'i adalah berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali dalam umroh atau haji, dikerjakan setelah tawaf. Sa'i termasuk rukun umroh.
Berapa kali putaran sa'i?
Tujuh kali perjalanan. Shafa ke Marwah dihitung satu kali, Marwah ke Shafa satu kali lagi, sehingga tujuh perjalanan berakhir di Marwah.
Apa makna sejarah sa'i?
Mengenang perjuangan Siti Hajar berlari antara Shafa dan Marwah mencari air untuk Ismail, hingga memancar mata air Zamzam. Sa'i lambang ikhtiar dan tawakal.
Kesimpulan Singkat
Sa'i adalah berjalan antara Shafa dan Marwah tujuh kali — rukun umroh yang dikerjakan setelah tawaf dan mengenang keteguhan Siti Hajar. Memahami makna, syarat, dan tata caranya membantu jemaah menjalankannya dengan benar dan penuh penghayatan. Bagi travel, memastikan jemaah dibimbing menjalani sa'i dengan tenang adalah bagian dari pelayanan yang menjaga keabsahan ibadah — peran yang dijalankan muthawif berpengalaman dalam layanan handling yang kami isi. Pelajari selengkapnya lewat panduan rukun umroh.